sARAWAk - Sarawak
dikatakan berada di bawah kekuasaan kerajaan Srivijaya pada kurun-10 hingga
kurun-13. Penguasaan kerajaan Srivijaya ke atas wilayah pesisiran Sarawak telah
membolehkan orang-orang MALAyu dari Sumatera berhijrah dan menetap di kawasan
pesisiran Sarawak.
Orang MALAyu
telah membuka penempatan mereka di Santubong yang merupakan antara pelabuhan
entrepot terpenting di Nusantara. Ini telah dibuktikan dengan dengan penemuan
bahan artifak seperti pasu zaman dinasti Tang, dan Song di Santubong.
Setelah
kejatuhan kerajaan Srivijaya pada kurun-13, Sarawak dikuasai oleh kerajaan
Majapahit. Seorang putera Raja Majapahit iaitu Raden Menteri Dipati atau Datu
Merpati telah berhijrah ke Sarawak pada kurun ke-15
Baginda
telah berkahwin dengan Datu Permaisuri anak perempuan Raja Jarom Jawa di Johor
sebelum berhijrah ke Sarawak. Daripada keturunan Datu Merpati Jepang, muncullah
golongan bangsawan MALAyu Sarawak yang bergelar Abang.
Merujuk
kepada kitab Sejarah MALAyu dan manuskrip sejarah yang terdapat di Brunei, bahwa
setelah Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan MALAyu di pesisir timur Pulau Sumatera
runtuh, maka kemudian dilanjutkan dengan berdirinya Kerajaan Johor (Johor Lama)
di Pulau Temasik pada akhir abad ke-13 M (tahun 1200-an) yang wilayah
kekuasaannya kemudian meliputi wilayah Sungai Sarawak.
Seiring
dengan itu, Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa berdiri dan berkembang dalam abad
ke-14 M (tahun 1300-an) dimana kemudian Kerajaan Majapahit ini menundukkan
Kerajaan Johor di Pulau Temasek ini termasuk wilayah Sungai Sarawak itu.
Ketika
Kerajaan Majapahit melemah pada pertengahan abad ke-14 M itu, maka Kerajaan
Johor berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Selanjutnya
masih menurut manuscript sejarah yang terdapat di Brunei, bahwa pada sekitar
tahun 1370 M, Raja Brunei yaitu Awang Alak Betetar di ISLAM kan oleh Sultan
Johor saat itu dan menikahnya Awang Alak Betatar dengan anak Sultan Johor itu
sehingga Awang Alak Betatar pun berganti gelar menjadi Sultan Muhammad Shah
dilanjutkan dalam manuscript itu bahwa dengan pernikahan ini maka wilayah
Sungai Sarawak kemudian diserahkan oleh Sultan Johor kepada Awang Alak Betatar
(Sultan Muhammad Shah) untuk selanjutnya menjadi wilayah pentadbiran Kerajaan
Brunei.
Maka
sejak saat itu wilayah Kerajaan Brunei membentang dari wilayah Sarawak di ujung
timur hingga wilayah Sabah di ujung barat.
Selanjutnya
berdasarkan manuskrip sejarah yang terdapat di Brunei dan juga yang terdapat di
Sambas disebutkan bahwa pada sekitar tahun 1625 M, menyusul persaingan antara
Sultan Abdul Jalilul Akbar (Sultan Brunei ke-10) dengan Adindanya yaitu
Pangeran Muda Tengah maka untuk menghindari perseteruan maka Sultan Abdul
Jalilul Akbar membuat kebijaksanaan untuk memberikan wilayah Sarawak kepada
Adindanya yaitu Pangeran Muda Tengah itu agar Pangeran Muda Tengah dapat menjadi
Raja di wilayah Sarawak itu.
Maka
kemudian pada sekitar tahun 1627 M, Pangeran Muda Tengah dan pengikutnya
kemudian mendirikan Kerajaan di wilayah Sarawak dengan Pangeran Muda Tengah
menjadi Sultan pertama Sarawak dengan gelar Sultan Ibrahim Ali Omar Shah dan
kemudian lebih popular dengan sebutan Sultan Tengah atau Raja Tengah.
Diyakini
bahwa Istana Sultan Tengah ini adalah disekitar Kota Kuching sekarang (ada yang
menyebutkan di sekitar Sungai Bedil) sehingga dapat dikatakan bahwa Sultan
Ibrahim Ali Omar Shah (Sultan Tengah) inilah orang yang pertama membuka Kota
Kuching ini.
Sultan Tengah atau Raja Tengah ini kemudian pada sekitar tahun 1629 (disebutkan setelah sekitar 2 tahun memerintah di Sarawak), dalam pelayaran dari Johor ke Sarawak, kapalnya telah dihantam badai dan terdampar di Kesultanan Sukadana (sebuah Kerajaan di bagian tengah dari pesisir barat Pulau Borneo ini).
Di
Sukadana ini, Sultan Tengah kemudian menikah dengan Adinda Sultan Sukadana dan
memperoleh 5 orang anak. Dari Sukadana Sultan Tengah dan keluarganya kemudian
berhijrah ke wilayah Sungai Sambas.
Keturunan
dari Sultan Tengah inilah yang kemudian menjadi Sultan-Sultan Sambas dan
keturunannya hingga saat ini dimana Sultan Sambas yang pertama yaitu Sultan
Muhammad Shafiuddin (Sulaiman) adalah anak Sultan Tengah dari hasil
pernikahannya dengan Adik Sultan Sukadana.
Kemudian
pada sekitar tahun 1655 M ketika dalam perjalanan pulang dari Sambas ke
Sarawak, Sultan Tengah terbunuh di daerah Batu Buaya dan dimakamkan di
Santubong (makam Sultan Tengah telah dibina dengan megah dan dapat ditemui
hingga sekarang di lereng Gunung Santubong, disebelah kiri jalan dari Kuching
ke Pantai Damai).
Setelah
kewafatan Sultan Tengah ini, Kerajaan Sarawak tidak diserahkan kepada anak-anak
Sultan Tengah tetapi diambil alih kembali oleh Sultan Brunei sehingga wilayah
Sarawak itu kembali menjadi wilayah pentadbiran Kesultanan Brunei.
Sehingga
dengan demikian Sultan Ibrahim Ali Omar Shah (Sultan Tengah) merupakan Sultan
Sarawak pertama dan sekaligus juga merupakan Sultan Sarawak terakhir yang
berarti pula merupakan satu-satunya Sultan Sarawak yang pernah wujud.
Sebelum
terdampar ke Sukadana (ketika berkunjung dari Sarawak ke Johor, Sultan Tengah
telah mengangkat beberapa orangnya yang diberinya gelar Datu Petinggi dan Datu
Temenggung untuk mengendalikan pemerintahan Kerajaan Sarawak sepeninggalnya ke
Johor itu dan hingga kini gelaran-gelaran itu kemudian masih digunakan turun
temurun hingga di masa James Brooke menguasai Sarawak dan gelaran-gelaran itu
pun masih terkesan hingga saat ini di Sarawak dan keturunan dari 1000 orang
Sakai yang dibawa oleh Sultan Tengah dari Brunei ke Sarawak ketika Baginda
mendirikan Kerajaan Sarawak, hingga saat ini masih dikenal di Sarawak dengan
sebutan keturunan hamba Raja Sarawak.
Nampaknya
bahwa golongan yang bergelar Abang diatas, datang ke Sarawak setelah masa
Sultan Tengah itu.
Golongan
Malayu perabangan Sarawak telah memegang jawatan terpenting seperti Datu
Patinggi, Datu Temenggong, Datu Bentara pada zaman pemerintahan Brooke di
Sarawak
Sedangkan
anak Sultan Tengah (Sultan Ibrahim Ali Omar Shah) yang sulung yaitu bernama
Sulaiman kemudian pada tahun 1671 M, mendirikan sebuah Kerajaan diwilayah
aliran Sungai Sambas yang kemudian dikenal dengan nama Kesultanan Sambas dengan
Sulaiman sebagai Sultan Sambas pertama bergelar Sultan Muhammad Shafiuddn.
